BAB 1
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Masalah
Kebebasan bermedia melahirkan format baru
dalam dunia pertelevisian sehingga acara-acara
yang disuguhkan pun
semakin beragam. Keragaman tersebut dapat dilihat mulai dari program
berita hingga
sinetron-sinetron remaja. Hampir keseluruhan acara tersebut ditujukan untuk
menghibur pemirsa,
bahkan untuk suguhan berita sekalipun. Positifnya, pemirsa televisi (dalam
bahasan ini adalah siswi
SMA) pun mendapatkan banyak pilihan acara.
Sayangnya, kebebasan bermedia pada akhirnya
berdampak pada kurang terkontrolnya acara-
acara yang ditayangkan.
Mulai dari kurang kontrol dalam jam penayangan hingga kontrol mutu
acara tersebut. Salah
satu sisi yang kurang terkontrol adalah penayangan sinetron remaja yang
makin marak. Bahkan,
dalam setiap harinya setiap stasiun televisi Indonesia dapat menayangkan
minimal tiga hingga
empat judul sinetron. Hingga akhirnya produk dengan durasi rata-rata 30
hingga 60 menit per episode
tersebut menjadi tontonan wajib bagi para siswi SMA. Terlebih,
banyak siswi SMA yang
memposisikan sinetron sebagai sarana hiburan yang menyenangkan.
Tanpa harus kemana-mana
mereka telah mendapatkan hiburan untuk melepaskan kejenuhan
yang ada.
Global TV adalah salah satu stasiun televisi
swasta yang membidik remaja sebagai
konsumennya.
Sinetron-sinetron yang ditayangkan di Global TV kebanyakan bercerita mengenai
kehidupan siswi SMA
dengan rok pendek serta anting-anting besarnya, gaya standar dalam
setiap sinetron remaja
Indonesia. Namun sesungguhnya, seragam bermodel rok pendek bukanlah
mode yang diperkenalkan
oleh sinetron. Sebelum sinetron-sinetron remaja merebak, sebuah film
yang bertajuk Ada Apa
Dengan Cinta (AADC) telah membawa mode tersebut ke dalam dunia
remaja. Baru setelah itu
muncullah sinetron-sinetron dengan berbagai macam mode pakaian.
Mode-mode pakaian inilah
yang kemudian dibawa ke kehidupan sehari-hari oleh para siswi
SMA. Kondisi psikologis
siswi SMA yang belum matang membuat sebagian besar dari mereka
mengopi gaya dalam
sinetron mentah-mentah. Sifat sebagian besar remaja yang copy cat telah
membuat mode-mode
pakaian tersebut masuk ke dalam kehidupan mereka. Kemudian mode
pakaian kalangan siswi
SMA pun berkembang menjadi baju model sinetron A atau anting dalam
sinetron B.
Sesungguhnya, hal tersebut sangat wajar
terjadi mengingat kondisi psikologis remaja yang masihterus mencari gaya apa
yang cocok dengan karakter mereka. Hingga kemudian sinetron pun seperti beralih
fungsi dari tayangan hiburan menjadi majalah mode untuk referensi gaya. Sayangnya, terkadang dalam mengikuti mode
pakaian sinetron, siswi SMA sering menggunakan penggeneralisasian yang salah.
Hingga kemudian, muncul semacam culture lag dalam gaya berpakaian mereka.
Judul penelitian ini diambil berdasar fakta
bahwa siswi kebanyakan juga ikut terkena imbas gaya berpakaian yang ditampilkan
sinetron remaja di Global TV sehingga diharapkan dari penelitian ini dapat
dibuktikan bahwa sinetron remaja di Global TV memberi pengaruh terhadap gaya
berpakaian siswi.
2. Rumusan Masalah
Berdasar latar belakang yang diuraikan di
atas, rumusan masalah yang akan dikaji adalah:
a. Apakah sinetron remaja di Global TV mempengaruhi
gaya berpakaian siswi jaman saat ini.